Dinda, Mahasiswi Sumenep yang Lantang Menolak UU Cipta Kerja

Peristiwa Regional Sumenep
Share this:

asatoe.net, Sumenep – Usai DPR RI mengesahkan Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja yang berpotensi merugikan rakyat kecil, merembetlah aksi massa di berbagai daerah menuntut undang-undang itu dicabut.

Massa aksi yang terdiri dari berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat mulai menumpahkan kekecewaannya kepada DPR dan pemerintah karena aspirasi publik sudah dibaikan.

Di Sumenep, gelombang demonstrasi penolakan Undang-undang Cipta Kerja juga lantang disuarakan. Tercatat dua kali aksi sudah dilakukan oleh aktivis mahasiswa di Sumenep.

Pertama, aksi demonstrasi di depan kantor DPRD Sumenep dilakukan oleh Aliansi Mahasiswa Sumenep. Teranyar, aksi gabungan yang dilakukan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

Menariknya, dalam dua kali aksi unjuk rasa di depan gedung parlemen itu, ada satu orator perempuan yang sering terlihat di atas mobil komando. Dalam orasinya, perempuan cantik ini dengan lantang menolak Undang-undang Cipta Kerja.

Perempuan ini adalah Arisya Dinda Nurmala Putri. Dia tercatat sebagai mahasiswi di Universitas Wiraraja Madura dan juga aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sumenep.

Saat ditemui oleh sejumlah wartawan, dia mengaku terpanggil menyuarakan aspirasi rakyat. Dia juga mengaku miris dengan ditetapkannya Undang-undang Cipta Kerja oleh DPR beberapa waktu lalu.

Menurutnya, dengan disahkannya undang-undang tersebut telah melukai hati rakyat Indonesia. Apalagi, undang-undang tersebut terkesan berpihak kepada pemodal.

“Sebagai anak yang lahir dan hidup di desa, saya tidak terima dengan keputusan DPR dan pemerintah itu. Karena nasib rakyat khususnya buruh dan petani yang dikorbankan,” kata Dinda.

Sebab itu, kata dia, dirinya tidak pernah takut apalagi minder jika berhadapan dengan aparat keamanan saat aksi. Sebab, baginya turun jalan adalah cara terbaik dalam menyampaikan aspirasi jika semua langkah sudah mengalami kebuntuan.

“Saya sudah sering ikut aksi, bahkan terhitung sudah beberapa aksi. Jadi, saya gak pernah takut dengan apapun, meskipun kadang harus mendapat perlakuan kasar,” ujarnya.

Meski demonstran perempuan kerap diidentikkan dengan sebutan negatif, Dinda mengaku tidak akan surut apalagi pasrah dengan keadaan.

Ia dengan tegas akan tetap berjuang meski perselingkuhan antar pemangku kebijakan kerap dipertontonkan oleh pembuat kebijakan.

“Beberapa opini dan tulisan yang menyebabkan persekusi terhadap demonstran perempuan memang kerap ditemui. Namun hal itu tidak akan menyurutkan niat saya,” tegasnya.

Bagi Dinda, stereotipe perempuan hanya di kasur, dapur dan sumur tidak berlaku. Sebab, hakikatnya perempuan juga bisa menempati berbagai posisi strategis.

“Perempuan punya kursi politik dan sosial, perempuan juga punya fungsi untuk mengembangkan dirinya baik itu dari segi ekonomi atau yang lain,” tandasnya.

Dia pun mengajak seluruh perempuan khususnya pemuda, mahasiswa hingga emak-emak untuk bersatu padu melawan ketidakadilan dan menuntut kesetaraan.

“Kepada seluruh sahabat, kawan dan semua kaum perempuan, tunjukkan bahwa kita patut dihargai, harus tampil berani, harus menjadi diri sendiri. Kalian sudah punya ruang untuk ber-aspirasi dan bergerak,” tutupnya. (Hazmi)

image_pdfPDFimage_printPRINT
Tagged

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.